nila-salin

Terkenal dengan julukan negara maritim, Indonesia merupakan negara dengan garis pantai terpanjang di dunia dan wilayah perairan yang luas. Perairan ini menyimpan potensi sumber daya alam yang melimpah, seperti ragam spesies ikan. Tidak hanya terbatas pada ikan laut, namun juga ikan air tawar dan air payau.

Sayangnya, tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara tetangga. Menurut data tahun 2017, konsumsi ikan rata-rata masyarakat Indonesia hanya 41 kg per kapita per tahun. Walaupun secara statistik cenderung meningkat setiap tahunnya, Indonesia tetap tertinggal dari negara tetangga, seperti Malaysia (70 kg/kapita/tahun) dan Singapura (80 kg/kapita/tahun). 

Potensi peningkatan konsumsi ikan masih terbuka lebar ke depannya, mengingat ikan merupakan salah satu pangan sumber nutrisi yang baik untuk pertumbuhan dan kesehatan manusia. Rendahnya konsumsi ikan di Indonesia tidak hanya karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan nilai gizi ikan, namun juga rendahnya suplai ikan di banyak daerah akibat kurang lancarnya distribusi pemasaran. 

Padahal, ada beberapa keunggulan nutrisi esensial dalam seekor ikan yang tidak ditemukan di dalam sumber pangan lainnya. Antioksidan yang tinggi di dalam tubuh ikan mampu mengurangi resiko penyakit jantung, kanker, stroke dan alzheimer. Ditambah lagi kandungan omega 3 dan omega 6 yang bagus untuk pembentukan otak janin dan anak-anak serta kandungan gizi lainnya seperti protein, asam lemak, yodium, zat besi, dan kalsium yang berguna untuk menjaga kesehatan tulang. Nutrisi esensial tersebut juga terkandung dalam ikan nila yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia. Ikan nila merupakan salah satu ikan favorit masyarakat Indonesia karena dikenal memiliki daging yang gurih dan lembut serta mudah diolah menjadi masakan yang lezat.

Pada artikel kali ini, Sinta akan membahas pemeliharaan ikan nila yang dibudidayakan di air payau, untuk mengoptimalkan potensi garis pantai Indonesia yang panjang. Teknik ini dikenal juga dengan budidaya ikan nila salin.

Prospek Bisnis Ikan Nila Salin

Ikan Nila Salin (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan nila yang mampu beradaptasi baik di air tawar dan air payau, dengan tingkat salinitas (kadar garam) hingga 20 ppt. Jenis ikan nila ini memiliki pertumbuhan yang cepat, dapat dipanen dalam kurun waktu 3 bulan saja. Selain itu, lendir yang dikeluarkan sisik nila mengandung bakteri yang bermanfaat untuk sterilisasi air di kolam budidaya. Nila salin juga memiliki daya tahan yang lebih baik dan relatif kuat dalam melawan penyakit, sehingga memiliki tingkat kematian yang rendah.

Peluang bisnis dari hasil budidaya ikan Nila Salin patut dipertimbangkan oleh peternak ikan, terutama yang tinggal di daerah dataran rendah, pesisir dan sekitar muara. Secara ekonomi, komoditas ikan nila memiliki pasar yang menjanjikan baik untuk ekspor maupun untuk pasar lokal. Menurut data BPS tahun 2017, jumlah ekspor ikan nila mencapai 9.179 ton dengan nilai mencapai 57,43 juta USD. Sementara harga untuk pasar domestik berkisar antara 30-35 ribu rupiah per kg.

Secara selera, ikan Nila Salin lebih disukai konsumen karena warna dagingnya yang putih dan tebal, rasanya yang gurih (karena dibudidayakan di air payau), dan teksturnya yang lembut. 

Baca juga Meraih Hasil yang Maksimal dengan Budidaya Ikan Sistem Bioflok

Cara Budidaya

Ada 4 faktor penting yang harus diperhatikan saat melakukan budidaya ikan nila salin, diantaranya:

Pemilihan Bibit Ikan Nila

Pilih jenis ikan nila monosex (memiliki jenis kelamin jantan semua) agar produktivitas lebih maksimal dibandingkan budidaya campuran. Hal ini dikarenakan sifat ikan nila yang gampang memijah (melakukan perkawinan). Jika dilakukan budidaya campuran, bobot ikan akan terhambat karena energi sudah habis untuk pemijahan. Agar hasil optimal, anda dapat menggunakan benih ikan berjenis kelamin jantan saja. Selain karena alasan yang telah disebutkan, pertumbuhan ikan nila jantan lebih cepat 40% dari ikan nila betina.

Sebelum ditebar, biarkan bibit ikan beradaptasi terlebih dahulu. Caranya adalah dengan memasukan wadah berisi bibit ikan nila ke dalam air kolam. Diamkan beberapa jam, setelah itu buka wadah dan biarkan ikan keluar dengan sendirinya.

Persiapan Kolam

Budidaya ikan dapat dilakukan di kolam semen, kolam tanah, kolam terpal, mapun kolam plastik. Dalam artikel ini, Sinta menggunakan tepi muara sebagai contoh lokasi budidaya ikan nila salin dan kolam semen sebagai tempat pembesaran.

Lokasi kolam pembesaran Ikan Nila Salin hendaknya berada sedekat mungkin dengan sumber air payau untuk memudahkan pengisian, penambahan atau penggantian air. Untuk pertumbuhan yang optimal, kedalaman ideal kolam air payau yaitu 1,5 meter. Sebaiknya tidak kurang, karena akan membatasi pergerakan ikan. 

Langkah selanjutnya adalah membuat lubang pembuangan yang dilapisi kelambu. Lubang ini berfungsi untuk membuang kelebihan air saat hujan. Jangan lupa untuk membuat saluran pembuangan air di bagian bawah untuk memudahkan pengeringan air kolam saat panen.

Jika anda menggunakan kolam yang telah dipakai untuk budidaya ikan sebelumnya, maka anda harus mengeringkan kolam terlebih dahulu agar gas amonia dapat menguap dan tidak meracuni ikan. Selain itu, lakukan proses pengapuran untuk menetralkan asam (pH), sebab biasanya kolam memiliki tingkat keasaman yang tinggi (pH rendah). Caranya adalah dengan menggunakan dolomit/kapur pertanian. Aduk kapur degan air hingga rata, kemudian sebarkan di permukaan kolam yang sudah dijemur dan diamkan selama dua hingga tiga hari.

Setelah kolam siap, anda bisa mengisinya dengan air payau, lakukan secara bertahap. Pertama alirkan air sedalam 10-20 cm, diamkan tiga sampai lima hari. Setelahnya, tambah air kolam hingga mencapai ketinggian 60-75 cm. Dengan ketinggian ini bibit ikan sudah boleh ditebar.

Jangan lupa untuk mengganti air setiap tiga hingga empat minggu sekali. Hal ini berguna untuk menjaga kualitas air supaya air tidak keruh dan berkurang salinitas air karena hujan atau pH yang berubah.

Pakan

Bagian terpenting dari pemberian pakan ikan nila adalah kesesuaian besaran pakan dengan bukaan mulut. Jadi sebaiknya berupa pelet pakan dengan kadar protein minimal 28 %. Anda bisa menggunakan pakai ikan terapung Sinta. Selain memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan, pakan terapung sinta juga ramah lingkungan. 

Pakan diberikan 2 kali sehari, pagi dan sore. Sekali dua minggu, ambilah sampel ikan nila dan timbang beratnya, lalu sesuaikan jumlah pakan. Pada bulan pertama, ikan diberi makan 5% dari berat badan, kemudian berkurang menjadi 4% pada bulan kedua, dan 3% pada bulan ketiga. 

Hindari memasukkan makanan sisa seperti tulang, nasi dan sampah dapur lainnya ke dalam kolam sebagai pengganti pakan, karena akan merusak kualitas air, dapat menyebabkan penurunan pH air dan peningkatan kandungan amonia dalam air. Sisa makanan akan terakumulasi dan berubah menjadi racun bagi ikan.

Pemanenan Ikan Nila

Salah satu keunggulan Nila Salin adalah singkatnya waktu pemeliharaan, yaitu berkisar 3 bulan. Jika menggunakan benih berukuran 10-20 gram per ekor, maka saat panen ikan nila sudah akan berbobot 250 gram. 

Anda bisa melakukan panen sebagian (parsial) dan menyisakan sebagian ikan agar mencapai bobot hingga 600 gram, dan menambah masa pemeliharaan 3 bulan lagi, untuk segmen khusus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Language